Pantai menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu ceria bersama teman atau keluarga tercinta, menenangkan pikiran dari hiruk pikuk kota, buat kamu warga Batam atau yang baru menginjakkan kaki dikota ini berikut kami rekomendasikan pantai nan menawan jauh dari kebisingan.
Wisata Pantai Karas yang terletak di Pulau Karas, Pulau Karas merupakan salah satu pulau Di Batam kecamatan Galang, untuk menuju kepulau ini, sudah di sediakan transformasi laut ( kontak yang dapat dihubungi ada di akhir artikel )
Pantai Karas merupakan agenda wajib Anda kunjungi, kebersihan pantai sangat diutamakan, nuansa alam, seafood, kelapa muda dapat Anda nikmati disini.
Mungkin Anda berminat berpetualang pantai sambil memancing, diving atau sno rkeling dan disediakan juga paket wisata yang dapat disesuaikan dengan menghubungi no 085264492925
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Tuesday, 25 October 2016
Friday, 21 October 2016
Sejarah Batam Brick Works Pabrik Pertama Berdiri Di Kota Batam
Dalam sepucuk surat bertarikh, Selasa 8 Rabi’luawal Hijrah bersamaan 26 Juli 1898 Miladiah umpamanya, Raja Muhammad Yusuf atas nama kerajaan Riau-Lingga telah mengurniakan sebagian tanah Pulau Batam kepada putranya yang bernama Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Ali Kelana, dan kepada saudaranya yang bernama Raja Muhammad Thahir:
“Bahwa kita seri Paduka Yang Dipertuan Muda Riau dan Lingga serta daerah takluknya sekalian menyatakan dari hal-hal tanah-tanah yang disebelah Pulau Batam yang telah jadi kurnia kerajaan kepada putera kita Raja Abdullah (Tengku besar) dan kepada putera kita Raja Ali Kelana dan kepada saudara kita Raja Muhammad Thahir bin almarhum Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji…”
Diperkirakan, pada awalnya (sekitar tahun 1898-1899), diatas tanah di Pulau Batam itu, Raja Ali Kelana dan Sam Ong Leong bekerjasama membuat sebuah pabrik batu bata dengan perusahaan bernama Batam Brick Works yang berkantor di Singapura. Raja Ali Kelana sebagai pemilik lahan dan Sam Ong Leong sebagai pemilik modal. Perkongsian ini tidak bertahan lama, setelah berjalan kurang lebih tiga atau empat tahun (tepatnya tahun 1901), usaha tersebut dilepaskan kepada Raja Ali Kelana. Setelah itu, perusahaan itu didaftarkan dan di iklankan dalam The Singapore and Straits Directory for 1901 dengan Raja Allie (Raja Ali Kelana) sebagai pemiliknya.
Ada beberapa pendapat tentang asal-usul perusahaan Batam Brick Works dan masalah kepemilikannya. Song Ong Siang misalnya menyebut nama Ong Sam Leong, seorang pengusaha Cina kaya di Singapura sebagai pemiliknya. William R. Rolf menyebutkan bahwa pada tahun 1901, Raja Ali Kelana membeli sebuah kilang pabrik batu bata di Batam.
Oleh Raja Ali Kelana, pembelian Batam Brickworks itu terus dipublikasikan hingga beberapa tahun kemudian pada sejumlah surat kabar yang terbit di Singapura. Sebagai ilustrasi, pada bulan Juli 1899, seorang bernama Raja Mohammed Akib mempromosikan ‘pengambil alihan’ perusahaan itu oleh Raja Ali Kelana dalam kolom iklan The Singapore Free Press and Merchantile Advertiser.
Pada tahun 1901, The Singapore and Straits Directory for 1901, untuk pertama kalinya mencantumkan nama perusahaan Batam Brick Works dengan nama Raja Allie (Ali Kelana) sebagai pemilik. Perusahaan ini berkantor di135 Prinsep Street Singapura, dengan pabrik terletak di Batu Aji, Pulau Batam.
Sejak diiklankan dalam The Singapore and Straits Directory, Batam Brick Works mulai dikenal dan menjadi perusahaan penghasil batu bata yang terbesar di Kepulauan Riau-Lingga. Karena kualitas dan mutunya, Batam Brick Works kerap memenangkan sejumlah penghargaan di Singapura, Semenanjung Melayu, dan Kawasan Timur Jauh. Puncaknya perusahaan ini memenangkan penghargaan pada Hanoi Exposition tahun 1902 dan 1903 di Hanoi dan Penang Agricultural Show di Pulau Pinang tahun 1901.
Di tangan Raja Ali Kelana, Batam Brickworks mulai bersinar. Ketika diambil alih pada tahun 1896, Batam Brickworks telah mampu memproduksi 30.000 batu batu bakar yang keras (Hard-Burnt Brick) per-hari. Semua batu bata yang produksi Batam Brickworks menggunakan merek dagang BATAM yang ditulis dengan huruf kapital pada bagian atas atau sampingnya.
Seiring dengan perkembangan Singapura, dan daerah Riau-Lingga sendiri, kebutuhan akan batu bata semakin meningkat dan harga jualnya cukup tinggi. Pada tahun 1902 harga jual batu bata $50 hingga $140. Dari usaha ini Raja Ali Kelana mampu membeli kapal uap. Keberhasilan Raja Ali Kelana dalam mengembangkan Batam Batambrickwoks tak terlepas dari ‘manajemen modern’ yang dikendalikan dari kantor pusat serta depot di Singapura yang dipimpin oleh manajer Said Syech al-Hadi, Said Omar bin Sahab, Sudin, Abdool Koodos, Tiang Pow, Abdul Latip, Abdul Hakim dkk, dan sudah barang tentu didukung oleh pabrik dengan mesin dengan mesin-mesin modern pada zamannya di Pulau Batam.
Sebagai sebuah perusahaan anak Melayu yang diperhitungkan dalam dunia binis di kawsan Selat Melaka ketika itu, nama Batam Brickworks beserta personalia kantor pusat di Singapura dan pabrik di Pulau Batam, dicantumkan dalam direktori bisnis bergengsing di Singapura, The Singapore and Straits Directory, sejak 1901 hingga 1910.
Indjin Batoe di Batu aji Jika kantor pusat dan kantor pemasaran Batam Brickworks di Singapura mula-mula beralamat 135 Prinsep Street dan di 13 Boat Quay, maka pabrik batu bata Batam Brickworks tetap berada di Batam yang sekaligus menjadi sumber bahan baku pabrik itu.Lokasinya di pinggir laut sebuah kawasan di Batu Haji ( sekarang Batu Aji). Penduduk setempat, dan penduduk di sekitar Pulau Bulang menyebut kawasan pabrik itu enjin batu, bersempena mesin uap yang dipergunakan untuk membuat batu bata di pabrik tersebut.
Dalam arsip-arsip lama tentang Batam Brickworks, dan peta-peta lama kawasan pesisir sekitar Selat Bulang dan pulau sekitarnya, nama kawasan pabrik itu menjadi sebuah toponim yang ditulis indjin batoe dalam bahasa Melayu atau steenebakkerij dalam bahasa Belanda.
Pabrik Batam Brickwork atau indjin batoe di Batu Haji ini dipimpin oleh Superintendent (pengawas) bernama T. Sembob. Ia dibantu oleh Asistent bernama R. Murad, Clerk Abdul Madjid, S. Hashim, Raja Mahmood, Yacob, Abdulrahman, T Hussain, Syed Mohamed Rodsee, M. Salleh, T. Abdul Zalil, dan mandore Hang tent Yew, Safaralli, dan tan Hwa Lye.Pada tahun 1906 Raja Ali Kelana selesai membangun dan menampah fasiltas baru pabrik Batam Brickworks di Batu Haji dengan mesin-mesin uap yang didatangkan dari Jerman. Kontraktornya adalah Mr. M. Caps dari Singapura. Dengan mesin baru itu, dan didukung bahan baku tanah Batam yang bermutu, Batam Brickworks mampu menghasilkan batu bata dengan kualitas yang terbaik di belahan Timur, dan mampu menyaingi batu bata dari Skotlandia yang juga meramaikan pasar Singapura.
Usaha ini berkembang dengan pesatnya sehingga memungkinkan Raja Ali Kelana membeli dua buah kapal uap yang diberi nama Laurah dan Karang.
Selain dipergunakan di kawsan Riau-Lingga, seperti untuk membanguna gedung Mahkamah Besar dan Istana Laut di Penyengat, batu bata produksi Batam Brickworks juga dipergunakan untuk membangun gedung-degung pemerintah sarana perkeretapaian milik di Singapura dan negeri-negeri selat di Semananjung.
Berakhirnya Batam Brickworks
Zaman keemasan Batam Brickworks di bawah Raja Ali Kelana berakhir pada tahun 1910.
Terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan berakhirnya aktifitas pabrik ini. Persoalan pertama, adalah masalah internal yang menyangkut persoalan keuangan, dan macetnya produksi batu bata itu. Dari sisi eksternal, berakhirnya aktifitas pabrik ini tidak terlepas dari tekanan dan “sabotase” pihak Belanda terhadap Raja Ali Kelana. Dari dua penyebab ini, tekanan politiklah yang membuat pabrik ini benar-benar berakhir.
Dikeluarkannya Surat Keputusan Residen Riau, G.F. de Bruynskop yang berisi pembatalan semua surat-surat penganugerahan tanah yang dikeluarkan oleh Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau. Termasuk didalamnya terdapat tanah anugerah kerajaan kepada Raja Ali Kelana, yang antara lain digunakan sebagai lokasi pabrik batu bata Batam Brick Works.
Sebagai seorang tokoh kelompok perlawaan terhadap politik kolonial Belanda di Kerajaan Riau-Lingga, Raja Ali Kelana dicap sebagai salah seorang yang “berniat kejahatan” terhadap pemerintah Hindia Belanda, sebagaimana tersirat dalam surat pemakzulan Sultan Abdulrahman dan Tengku Besar Riau-Lingga pada tanggal 10 Februari 1911.
Sebelum hijrah ke Johor karena tekanan politik dan ancaman Belanda di 1911, Raja Ali Kelana telah menjual Batam Briworks dan pabriknya di Batu Haji Pulau Batam kepada Sam Bee Brickworks, sebuah perusahaan batu bata milik pengusaha Cina Singapura tahun 1910. Penjualan dan sekaligus pangalihan milik Batam Brickworks itu diumumkan oleh Sam Bee Brick Works dalam surat kabar Straits Time di Singapura pada 10 Januari 1910: “Sam Bee Brick Works – Pulo Batam. The Batam Brickworks of Pulo Batam in the district of Rhio, which has for some time ceased manufacturing the well-known “Batam-Bricks, has been now taken over by the Sam Bee Brick Works Company…”
Sejauh ini, belum diperoleh informasi sampai kapan Sam Bee Brick Works mejalankan bekas pabrik batu bata milik Raja Ali Kelana di Pulau Batam. Namun yang pasti, perusahaan itu tetap menggunakan nama BATAM dalam huruf kapital sebagai label batu bata yang diproduksinya.
Secara historis, usaha Raja Ali Kelana dalam membuka dan mengelola pabrik batu bata di Batu Aji Pulau Batam, dapat dilihat sebagai “pondasi” awal pengembangan industri di Pulau Batam yang diwujudkan dalam sebuah pabrik dan perusahaan miliknya yang bernama Batam Brick Works (Pabrik Batu Bata Batam).
Hingga kini, sisa-sisa batu bata produksi Batam Brick Works ini masih dapat dilihat pada bekas tiang istana laut di Kampung Bulang Pulau Penyengat, Belakang Padang dan di komplek makam Tumenggung Abdul Jamal di Pulau Bulang Lintang, Batam. Pada balok-balok batu bata merah tersebut masih terlihat jelas label “Batam”.
“Bahwa kita seri Paduka Yang Dipertuan Muda Riau dan Lingga serta daerah takluknya sekalian menyatakan dari hal-hal tanah-tanah yang disebelah Pulau Batam yang telah jadi kurnia kerajaan kepada putera kita Raja Abdullah (Tengku besar) dan kepada putera kita Raja Ali Kelana dan kepada saudara kita Raja Muhammad Thahir bin almarhum Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji…”
Diperkirakan, pada awalnya (sekitar tahun 1898-1899), diatas tanah di Pulau Batam itu, Raja Ali Kelana dan Sam Ong Leong bekerjasama membuat sebuah pabrik batu bata dengan perusahaan bernama Batam Brick Works yang berkantor di Singapura. Raja Ali Kelana sebagai pemilik lahan dan Sam Ong Leong sebagai pemilik modal. Perkongsian ini tidak bertahan lama, setelah berjalan kurang lebih tiga atau empat tahun (tepatnya tahun 1901), usaha tersebut dilepaskan kepada Raja Ali Kelana. Setelah itu, perusahaan itu didaftarkan dan di iklankan dalam The Singapore and Straits Directory for 1901 dengan Raja Allie (Raja Ali Kelana) sebagai pemiliknya.
Ada beberapa pendapat tentang asal-usul perusahaan Batam Brick Works dan masalah kepemilikannya. Song Ong Siang misalnya menyebut nama Ong Sam Leong, seorang pengusaha Cina kaya di Singapura sebagai pemiliknya. William R. Rolf menyebutkan bahwa pada tahun 1901, Raja Ali Kelana membeli sebuah kilang pabrik batu bata di Batam.
Oleh Raja Ali Kelana, pembelian Batam Brickworks itu terus dipublikasikan hingga beberapa tahun kemudian pada sejumlah surat kabar yang terbit di Singapura. Sebagai ilustrasi, pada bulan Juli 1899, seorang bernama Raja Mohammed Akib mempromosikan ‘pengambil alihan’ perusahaan itu oleh Raja Ali Kelana dalam kolom iklan The Singapore Free Press and Merchantile Advertiser.
Pada tahun 1901, The Singapore and Straits Directory for 1901, untuk pertama kalinya mencantumkan nama perusahaan Batam Brick Works dengan nama Raja Allie (Ali Kelana) sebagai pemilik. Perusahaan ini berkantor di135 Prinsep Street Singapura, dengan pabrik terletak di Batu Aji, Pulau Batam.
Sejak diiklankan dalam The Singapore and Straits Directory, Batam Brick Works mulai dikenal dan menjadi perusahaan penghasil batu bata yang terbesar di Kepulauan Riau-Lingga. Karena kualitas dan mutunya, Batam Brick Works kerap memenangkan sejumlah penghargaan di Singapura, Semenanjung Melayu, dan Kawasan Timur Jauh. Puncaknya perusahaan ini memenangkan penghargaan pada Hanoi Exposition tahun 1902 dan 1903 di Hanoi dan Penang Agricultural Show di Pulau Pinang tahun 1901.
Di tangan Raja Ali Kelana, Batam Brickworks mulai bersinar. Ketika diambil alih pada tahun 1896, Batam Brickworks telah mampu memproduksi 30.000 batu batu bakar yang keras (Hard-Burnt Brick) per-hari. Semua batu bata yang produksi Batam Brickworks menggunakan merek dagang BATAM yang ditulis dengan huruf kapital pada bagian atas atau sampingnya.
Seiring dengan perkembangan Singapura, dan daerah Riau-Lingga sendiri, kebutuhan akan batu bata semakin meningkat dan harga jualnya cukup tinggi. Pada tahun 1902 harga jual batu bata $50 hingga $140. Dari usaha ini Raja Ali Kelana mampu membeli kapal uap. Keberhasilan Raja Ali Kelana dalam mengembangkan Batam Batambrickwoks tak terlepas dari ‘manajemen modern’ yang dikendalikan dari kantor pusat serta depot di Singapura yang dipimpin oleh manajer Said Syech al-Hadi, Said Omar bin Sahab, Sudin, Abdool Koodos, Tiang Pow, Abdul Latip, Abdul Hakim dkk, dan sudah barang tentu didukung oleh pabrik dengan mesin dengan mesin-mesin modern pada zamannya di Pulau Batam.
Sebagai sebuah perusahaan anak Melayu yang diperhitungkan dalam dunia binis di kawsan Selat Melaka ketika itu, nama Batam Brickworks beserta personalia kantor pusat di Singapura dan pabrik di Pulau Batam, dicantumkan dalam direktori bisnis bergengsing di Singapura, The Singapore and Straits Directory, sejak 1901 hingga 1910.
Indjin Batoe di Batu aji Jika kantor pusat dan kantor pemasaran Batam Brickworks di Singapura mula-mula beralamat 135 Prinsep Street dan di 13 Boat Quay, maka pabrik batu bata Batam Brickworks tetap berada di Batam yang sekaligus menjadi sumber bahan baku pabrik itu.Lokasinya di pinggir laut sebuah kawasan di Batu Haji ( sekarang Batu Aji). Penduduk setempat, dan penduduk di sekitar Pulau Bulang menyebut kawasan pabrik itu enjin batu, bersempena mesin uap yang dipergunakan untuk membuat batu bata di pabrik tersebut.
Dalam arsip-arsip lama tentang Batam Brickworks, dan peta-peta lama kawasan pesisir sekitar Selat Bulang dan pulau sekitarnya, nama kawasan pabrik itu menjadi sebuah toponim yang ditulis indjin batoe dalam bahasa Melayu atau steenebakkerij dalam bahasa Belanda.
Pabrik Batam Brickwork atau indjin batoe di Batu Haji ini dipimpin oleh Superintendent (pengawas) bernama T. Sembob. Ia dibantu oleh Asistent bernama R. Murad, Clerk Abdul Madjid, S. Hashim, Raja Mahmood, Yacob, Abdulrahman, T Hussain, Syed Mohamed Rodsee, M. Salleh, T. Abdul Zalil, dan mandore Hang tent Yew, Safaralli, dan tan Hwa Lye.Pada tahun 1906 Raja Ali Kelana selesai membangun dan menampah fasiltas baru pabrik Batam Brickworks di Batu Haji dengan mesin-mesin uap yang didatangkan dari Jerman. Kontraktornya adalah Mr. M. Caps dari Singapura. Dengan mesin baru itu, dan didukung bahan baku tanah Batam yang bermutu, Batam Brickworks mampu menghasilkan batu bata dengan kualitas yang terbaik di belahan Timur, dan mampu menyaingi batu bata dari Skotlandia yang juga meramaikan pasar Singapura.
Usaha ini berkembang dengan pesatnya sehingga memungkinkan Raja Ali Kelana membeli dua buah kapal uap yang diberi nama Laurah dan Karang.
Selain dipergunakan di kawsan Riau-Lingga, seperti untuk membanguna gedung Mahkamah Besar dan Istana Laut di Penyengat, batu bata produksi Batam Brickworks juga dipergunakan untuk membangun gedung-degung pemerintah sarana perkeretapaian milik di Singapura dan negeri-negeri selat di Semananjung.
Berakhirnya Batam Brickworks
Zaman keemasan Batam Brickworks di bawah Raja Ali Kelana berakhir pada tahun 1910.
Terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan berakhirnya aktifitas pabrik ini. Persoalan pertama, adalah masalah internal yang menyangkut persoalan keuangan, dan macetnya produksi batu bata itu. Dari sisi eksternal, berakhirnya aktifitas pabrik ini tidak terlepas dari tekanan dan “sabotase” pihak Belanda terhadap Raja Ali Kelana. Dari dua penyebab ini, tekanan politiklah yang membuat pabrik ini benar-benar berakhir.
Dikeluarkannya Surat Keputusan Residen Riau, G.F. de Bruynskop yang berisi pembatalan semua surat-surat penganugerahan tanah yang dikeluarkan oleh Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau. Termasuk didalamnya terdapat tanah anugerah kerajaan kepada Raja Ali Kelana, yang antara lain digunakan sebagai lokasi pabrik batu bata Batam Brick Works.
Sebagai seorang tokoh kelompok perlawaan terhadap politik kolonial Belanda di Kerajaan Riau-Lingga, Raja Ali Kelana dicap sebagai salah seorang yang “berniat kejahatan” terhadap pemerintah Hindia Belanda, sebagaimana tersirat dalam surat pemakzulan Sultan Abdulrahman dan Tengku Besar Riau-Lingga pada tanggal 10 Februari 1911.
Sebelum hijrah ke Johor karena tekanan politik dan ancaman Belanda di 1911, Raja Ali Kelana telah menjual Batam Briworks dan pabriknya di Batu Haji Pulau Batam kepada Sam Bee Brickworks, sebuah perusahaan batu bata milik pengusaha Cina Singapura tahun 1910. Penjualan dan sekaligus pangalihan milik Batam Brickworks itu diumumkan oleh Sam Bee Brick Works dalam surat kabar Straits Time di Singapura pada 10 Januari 1910: “Sam Bee Brick Works – Pulo Batam. The Batam Brickworks of Pulo Batam in the district of Rhio, which has for some time ceased manufacturing the well-known “Batam-Bricks, has been now taken over by the Sam Bee Brick Works Company…”
Sejauh ini, belum diperoleh informasi sampai kapan Sam Bee Brick Works mejalankan bekas pabrik batu bata milik Raja Ali Kelana di Pulau Batam. Namun yang pasti, perusahaan itu tetap menggunakan nama BATAM dalam huruf kapital sebagai label batu bata yang diproduksinya.
Secara historis, usaha Raja Ali Kelana dalam membuka dan mengelola pabrik batu bata di Batu Aji Pulau Batam, dapat dilihat sebagai “pondasi” awal pengembangan industri di Pulau Batam yang diwujudkan dalam sebuah pabrik dan perusahaan miliknya yang bernama Batam Brick Works (Pabrik Batu Bata Batam).
Hingga kini, sisa-sisa batu bata produksi Batam Brick Works ini masih dapat dilihat pada bekas tiang istana laut di Kampung Bulang Pulau Penyengat, Belakang Padang dan di komplek makam Tumenggung Abdul Jamal di Pulau Bulang Lintang, Batam. Pada balok-balok batu bata merah tersebut masih terlihat jelas label “Batam”.
Sumber :
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/2014/06/08/batam-brick-works-cikal-bakal-industri-di-batam/
http://www.tanjungpinangpos.co.id/2013/69680/raja-ali-kelana-dan-fondasi-historis-industri-pulau-batam-1896-1910/
Monday, 17 October 2016
Festival Bahari 2016 dikota Gurindam Bunda Tanah Melayu
Kepulauan Riau yang berjuluk Bunda Tanah Melayu merupakan daerah maritim paling potensial di negeri ini, Luas lautannya sebesar 96 persen, Sedangkan luas daratan hanya 4 persen, Letak geografis yang berdekatan dengan Malaysia dan Singapura menjadi keuntungan tersendiri bagi provinsi ini, Festival Bahari Kepri adalah festival bergengsi tahunan yang merupakan rangkaian dari Sail Karimata 2016 ini akan digelar mulai tanggal 20 hingga 30 Oktober 2016 di Ibukota Provinsi Kepri di Tanjungpinang yang bergelar kota Gurindam.
Sebanyak 11 program telah disiapkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kepri untuk menyemarakkan event FBK di antaranya adalah Eco Heroes, Dragon Boat Race, Wonderful Indonesia Sailing, Panggung Penyair, Wonderful Kepri Expo,The Sound From Motherland of Malay, Kepri Traditional and Modern Games, Kepri Carnival, Parade Kapal Sungai Carang, Sky Lantern, dan Drone Competition.
Semua program yang diusung benar-benar mengangkat ciri khas Kepri. Selain bertemakan kemaritiman, segala yang beraroma Melayu turut dihadirkan disini.
Eco Heroes (20 Oktober 2016)
Merupakan aksi peduli sampah. Sebanyak 1200 orang akan dilibatkan untuk aksi membersihkan sampah di kawasan tepi laut Kota Tanjungpinang. Para pejuang sampah yang tegabung dalam Kelompok Sadar Wisata tersebut datang dari Batam, Bintan, dan Tanjungpinang sendiri. Bagi siapa saja yang peduli dengan kebersihan lingkungan diharapkan bisa turut berpartisipasi pada kegiatan ini.
Dragon Boat Race (21 – 23 Oktober 2016)
sejak tahun 2014 Event ini mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Dragon Boat race akan dilaksanakan di perairan sungai carang, dengan mengusung olahraga tradisi, Internasional Dragon Boat Race 2016 akan di ikuti peserta mulai dari lokal, luar daerah, hingga mancanegara.
Wonderful Kepri Expo (26 – 30 Oktober 2016)
Sebanyak 100 kapal yacht turut memeriahkan event FBK. Kapal-kapal tersebut akan berlayar dari Batam menuju lokasi tempat diselenggarakannya event FBK, Tanjungpinang. Terlebih dahulu akan singgah di Bintan tepatnya di kawasan Lagoi.
Program yacht ini diprakarsai oleh Nongsa Point Marina yang dijadikan sebagai titik awal (entry point) dan Bandar Bentan Telani sebagai pintu keluar (exit point). Sebelumnya, diadakan yacht rally dan City Tour di Batam terlebih dahulu.
Panggung Penyair (26 Oktober 2016)
Semua penyair akan berkumpul di event FBK. Tidak hanya dari Kepri, tetapi juga akan dihadiri oleh penyair-penyair nasional. Provinsi Kepri dikenal sebagai yang menghasilkan karya sastra bernilai seni tinggi. Seperti sastra Gurindam yang dicetuskan oleh Raja Ali Haji, sastrawan yang lahir dari Pulau Penyengat.
Kepri juga dipercaya sebagai daerah tempat lahirnya bahasa Indonesia. Di sebuah pulau kecil bernama Pulau Penyengat, disinilah bahasa Melayu bermula. Hingga digunakan di berbagai negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Pulau Penyengat bersebelahan sangat dekat dengan Pulau Bintan. Para penyair tersebut nantinya akan menggemakan melalui puisi pesona maritim tentang negeri bahari ini di Gedung Daerah Tanjungpinang.
Wonderful Kepri Expo (26 – 30 Oktober 2016)
Para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan industri bahari akan diajak untuk memamerkan produk-produknya di gelaran expo bersempena event FBK ini. Para pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai produk kreatif yang disajikan. Nantinya juga akan dilengkapi dengan pesona kuliner khasa Kepri seperti gonggong, laksa, lendot, dll.
The Sound from Motherland of Malay (27 Oktober 2016)
Program ini akan menyajikan ragam seni budaya Melayu. Beberapa negara serumpun akan turut serta memeriahkan event ini dengan membawa sanggar seni mereka. Tidak hanya Melayu, ragam kesenian nusantara dari berbagai daerah juga turut diundang untuk menyemarakkan event FBK ini.
Kepri Traditional and Modern Games (28 – 30 Oktober 2016)
Ingin melihat permainan rakyat Melayu asal Kepri? Kegiatan ini merupakan salah satu yang menjadi incaran pengunjung. Ragam permainan tempo doele akan disajikan disini. Seperti Panjat Pinang, Lomba Perahu Jong, dll. Eits, tunggu dulu, ini bukan lomba panjat pinang biasa, batang pinangnya tidak ditancapkan di darat sebagaimana biasa, tetapi akan dilakukan di laut.
Selain itu, permainan modern berbasis bahari juga akan ditontonkan di event FBK ini. Ragam wahana seperti Jet Sky, Fly Board, akan dipertontonkan di laut Tanjupinang. Dan jangan ketinggalan untuk menyaksikan lomba renang antar pulau, dari Pulau Penyengat ke Pulau Bintan.
Kepri Carnival (28 Oktober 2016)
Pertunjukan busana super glamour nan kreatif. Jika sudah pernah mendengar tentang Jember Carnival tentu tidak asing dengan kegiatan ini. Puluhan orang dengan kostum super besar bak ekor burung merak dengan ragam desain kreatif dan menarik akan beraksi disini.
Parade Kapal Sungai Carang (29 Oktober 2016)
Bagi yang ingin melihat kapal-kapal yang dihiasi dengan berbagai ornamen menarik datang saja kesini. Ratusan kapal akan bersolek menjelma menjadi ragam bentuk yang sedap dipandang seperti membubuhkan ornamen-ornamen khas Melayu.
Kegiatan ini akan berlangsung pada malam hari sehingga semarak cahaya lampu yang menerangi akan terlihat semakin menarik. Kapal-kapal ini akan bergerak dari Kampung Bulang menuju tepi laut Kota Tanjungpinang. Program ini nantinya akan dijadikan acara puncak pada event FBK.
Sky Lantern (29 Oktober 2016)
Program ini akan memanjakan mata dengan melihat ribuan lantern, layaknya balon terbang seukuran tong kecil berisikan cahaya api. Tentu saja event ini dilakukan pada malam hari sehingga semua masyarakat Tanjungpinang bisa menyaksikan langit bertaburan cahaya yang beterbangan.
Drone Competition (29 Oktober)
Punya alat ini? Bagi yang memiliki drone yaitu perangkat kamera dan video yang bisa terbang bebas di angkasa layaknya burung, bisa turut berpartisipasi pada kegiatan ini. Nantinya para droner diharuskan untuk mengabadikan momen-momen pada Festival Sungai Carang dan puncak acara FBK. Nantinya bagi droner terbaik akan mendapatkan hadiah hingga puluhan juta rupiah.
sumber:
www.kepri.travel
www.kepriprov.go.id
http://disparbud.tanjungpinangkota.go.id
Wonderfull Indonesia
Sebanyak 11 program telah disiapkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kepri untuk menyemarakkan event FBK di antaranya adalah Eco Heroes, Dragon Boat Race, Wonderful Indonesia Sailing, Panggung Penyair, Wonderful Kepri Expo,The Sound From Motherland of Malay, Kepri Traditional and Modern Games, Kepri Carnival, Parade Kapal Sungai Carang, Sky Lantern, dan Drone Competition.
Semua program yang diusung benar-benar mengangkat ciri khas Kepri. Selain bertemakan kemaritiman, segala yang beraroma Melayu turut dihadirkan disini.
Eco Heroes (20 Oktober 2016)
Merupakan aksi peduli sampah. Sebanyak 1200 orang akan dilibatkan untuk aksi membersihkan sampah di kawasan tepi laut Kota Tanjungpinang. Para pejuang sampah yang tegabung dalam Kelompok Sadar Wisata tersebut datang dari Batam, Bintan, dan Tanjungpinang sendiri. Bagi siapa saja yang peduli dengan kebersihan lingkungan diharapkan bisa turut berpartisipasi pada kegiatan ini.
Dragon Boat Race (21 – 23 Oktober 2016)
sejak tahun 2014 Event ini mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Dragon Boat race akan dilaksanakan di perairan sungai carang, dengan mengusung olahraga tradisi, Internasional Dragon Boat Race 2016 akan di ikuti peserta mulai dari lokal, luar daerah, hingga mancanegara.
Wonderful Kepri Expo (26 – 30 Oktober 2016)
Sebanyak 100 kapal yacht turut memeriahkan event FBK. Kapal-kapal tersebut akan berlayar dari Batam menuju lokasi tempat diselenggarakannya event FBK, Tanjungpinang. Terlebih dahulu akan singgah di Bintan tepatnya di kawasan Lagoi.
Program yacht ini diprakarsai oleh Nongsa Point Marina yang dijadikan sebagai titik awal (entry point) dan Bandar Bentan Telani sebagai pintu keluar (exit point). Sebelumnya, diadakan yacht rally dan City Tour di Batam terlebih dahulu.
Panggung Penyair (26 Oktober 2016)
Semua penyair akan berkumpul di event FBK. Tidak hanya dari Kepri, tetapi juga akan dihadiri oleh penyair-penyair nasional. Provinsi Kepri dikenal sebagai yang menghasilkan karya sastra bernilai seni tinggi. Seperti sastra Gurindam yang dicetuskan oleh Raja Ali Haji, sastrawan yang lahir dari Pulau Penyengat.
Kepri juga dipercaya sebagai daerah tempat lahirnya bahasa Indonesia. Di sebuah pulau kecil bernama Pulau Penyengat, disinilah bahasa Melayu bermula. Hingga digunakan di berbagai negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Pulau Penyengat bersebelahan sangat dekat dengan Pulau Bintan. Para penyair tersebut nantinya akan menggemakan melalui puisi pesona maritim tentang negeri bahari ini di Gedung Daerah Tanjungpinang.
Wonderful Kepri Expo (26 – 30 Oktober 2016)
Para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan industri bahari akan diajak untuk memamerkan produk-produknya di gelaran expo bersempena event FBK ini. Para pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai produk kreatif yang disajikan. Nantinya juga akan dilengkapi dengan pesona kuliner khasa Kepri seperti gonggong, laksa, lendot, dll.
The Sound from Motherland of Malay (27 Oktober 2016)
Program ini akan menyajikan ragam seni budaya Melayu. Beberapa negara serumpun akan turut serta memeriahkan event ini dengan membawa sanggar seni mereka. Tidak hanya Melayu, ragam kesenian nusantara dari berbagai daerah juga turut diundang untuk menyemarakkan event FBK ini.
Kepri Traditional and Modern Games (28 – 30 Oktober 2016)
Ingin melihat permainan rakyat Melayu asal Kepri? Kegiatan ini merupakan salah satu yang menjadi incaran pengunjung. Ragam permainan tempo doele akan disajikan disini. Seperti Panjat Pinang, Lomba Perahu Jong, dll. Eits, tunggu dulu, ini bukan lomba panjat pinang biasa, batang pinangnya tidak ditancapkan di darat sebagaimana biasa, tetapi akan dilakukan di laut.
Selain itu, permainan modern berbasis bahari juga akan ditontonkan di event FBK ini. Ragam wahana seperti Jet Sky, Fly Board, akan dipertontonkan di laut Tanjupinang. Dan jangan ketinggalan untuk menyaksikan lomba renang antar pulau, dari Pulau Penyengat ke Pulau Bintan.
Kepri Carnival (28 Oktober 2016)
Pertunjukan busana super glamour nan kreatif. Jika sudah pernah mendengar tentang Jember Carnival tentu tidak asing dengan kegiatan ini. Puluhan orang dengan kostum super besar bak ekor burung merak dengan ragam desain kreatif dan menarik akan beraksi disini.
Parade Kapal Sungai Carang (29 Oktober 2016)
Bagi yang ingin melihat kapal-kapal yang dihiasi dengan berbagai ornamen menarik datang saja kesini. Ratusan kapal akan bersolek menjelma menjadi ragam bentuk yang sedap dipandang seperti membubuhkan ornamen-ornamen khas Melayu.
Kegiatan ini akan berlangsung pada malam hari sehingga semarak cahaya lampu yang menerangi akan terlihat semakin menarik. Kapal-kapal ini akan bergerak dari Kampung Bulang menuju tepi laut Kota Tanjungpinang. Program ini nantinya akan dijadikan acara puncak pada event FBK.
Sky Lantern (29 Oktober 2016)
Program ini akan memanjakan mata dengan melihat ribuan lantern, layaknya balon terbang seukuran tong kecil berisikan cahaya api. Tentu saja event ini dilakukan pada malam hari sehingga semua masyarakat Tanjungpinang bisa menyaksikan langit bertaburan cahaya yang beterbangan.
Drone Competition (29 Oktober)
Punya alat ini? Bagi yang memiliki drone yaitu perangkat kamera dan video yang bisa terbang bebas di angkasa layaknya burung, bisa turut berpartisipasi pada kegiatan ini. Nantinya para droner diharuskan untuk mengabadikan momen-momen pada Festival Sungai Carang dan puncak acara FBK. Nantinya bagi droner terbaik akan mendapatkan hadiah hingga puluhan juta rupiah.
sumber:
www.kepri.travel
www.kepriprov.go.id
http://disparbud.tanjungpinangkota.go.id
Wonderfull Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)






